Liquidation Preference: Mengapa Founder Bisa Tidak Mendapat Apa Pun Saat Perusahaan Dijual?
Analisis hukum mendalam tentang liquidation preference dalam pendanaan ventura, bagaimana klausul ini dapat menghapus hak ekonomi founder, tinjauan regulasi perseroan terbatas dan pasar modal di Indonesia, serta strategi perlindungan bagi pendiri perusahaan.

Pendahuluan
Dalam ekosistem pendanaan ventura, klausul liquidation preference kerap menjadi batu sandungan bagi para pendiri perusahaan (founder) ketika terjadi transaksi penjualan atau exit. Secara konseptual, ketentuan ini memberikan hak prioritas kepada investor (pemegang saham preferen) untuk memperoleh kembali modalnya bahkan dengan kelipatan tertentu sebelum pemegang saham biasa (termasuk founder) menerima pembagian hasil. Akibatnya, tidak jarang founder yang secara persentase kepemilikan tampak besar justru tidak memperoleh satu rupiah pun dari hasil penjualan perusahaan.
Artikel ini akan mengupas secara mendalam mekanisme liquidation preference, variasi-variasinya, landasan hukum dalam sistem perseroan terbatas di Indonesia, serta strategi perlindungan yang dapat ditempuh oleh founder. Pembahasan juga akan mencakup wacana perkembangan regulasi yang sedang bergulir di kalangan regulator dan pembuat kebijakan.
Diagram dan Infografis Liquidation Preference
Definisi dan Mekanisme Liquidation Preference
Liquidation preference adalah hak kontraktual yang melekat pada saham preferen (preferred stock) yang menentukan prioritas dan besaran pembayaran kepada pemegang saham preferen ketika terjadi liquidation event, seperti penjualan perusahaan, merger, atau likuidasi. Hak ini memberikan perlindungan kepada investor agar modalnya tidak hilang dalam situasi exit yang kurang menguntungkan.
Dalam praktik pendanaan ventura, rumusan liquidation preference biasanya dituangkan dalam perjanjian pemegang saham (shareholders agreement), dokumen investasi, dan/atau anggaran dasar. UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas tidak menggunakan istilah liquidation preference untuk seluruh paket mekanisme pendanaan ventura, seperti multiple dan participating preference. Namun, Pasal 53 ayat (4) huruf e UU PT secara khusus mengakui klasifikasi saham yang berhak didahulukan atas pembagian sisa kekayaan Perseroan dalam likuidasi. Penerapan klausul untuk penjualan atau transaksi exit lainnya harus diperiksa dari rumusan kontrak, anggaran dasar, dan ketentuan hukum yang berlaku.
Variasi Klausul: Multiple, Participation, dan Ranking
Terdapat tiga parameter utama yang menentukan seberapa besar dampak liquidation preference terhadap founder:
- Kelipatan (multiple): Menentukan berapa kali lipat dari investasi awal yang harus dibayarkan kepada investor sebelum pemegang saham biasa mendapat bagian. Kelipatan 1x adalah yang paling umum, namun tidak jarang investor meminta 2x atau 3x, terutama pada tahap awal yang berisiko tinggi.
- Sifat partisipasi (participation): Ada dua jenis, yaitu non-participating (investor hanya mengambil preferensi, lalu keluar dari pembagian sisa) dan participating (investor mengambil preferensi, lalu masih ikut membagi sisa hasil secara proporsional dengan kepemilikan sahamnya). Participating preference pada umumnya lebih menguntungkan investor dan dapat mengurangi bagian ekonomi founder dibanding non-participating preference, tergantung struktur transaksi dan valuasi.
- Prioritas (ranking): Jika ada beberapa putaran pendanaan, dapat diatur prioritas antar seri saham preferen (misalnya Seri A lebih prioritas dari Seri B, atau sebaliknya).
Kombinasi dari ketiga parameter ini menentukan apakah founder akan mendapatkan bagian atau justru nol.
Mengapa Founder Bisa Tidak Mendapat Apa Pun?
Secara matematis, founder bisa kehilangan seluruh hak ekonominya jika total hasil penjualan tidak cukup untuk menutupi seluruh liquidation preference investor. Berikut ilustrasi sederhana:
Ilustrasi Kasus: Startup X
- Investasi total: Rp 100 miliar dari investor dengan saham preferen Seri A (2x participating).
- Porsi investor: 40%, founder: 60%.
- Perusahaan dijual seharga Rp 150 miliar.
- Perhitungan: Investor berhak 2 x Rp 100 M = Rp 200 M terlebih dahulu. Karena hasil jual hanya Rp 150 M, seluruh hasil habis untuk investor. Founder mendapat Rp 0.
Bahkan jika menggunakan 1x non-participating dengan angka yang sama, investor mengambil Rp 100 M, sisa Rp 50 M dibagi proporsional, founder mendapat 60% x Rp 50 M = Rp 30 M. Perbedaannya sangat signifikan.
Kasus-kasus serupa banyak terjadi di dunia nyata, terutama ketika perusahaan dijual pada valuasi yang tidak jauh di atas total investasi. Founder yang tidak memahami klausul ini seringkali terkejut ketika hasil exit tidak sesuai ekspektasi.
Landasan Hukum di Indonesia: Perseroan Terbatas dan Pasar Modal
UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) tidak memakai istilah liquidation preference untuk menjabarkan seluruh formula pendanaan ventura, termasuk multiple, participating, atau stacked preference, sebagai satu paket mekanisme. Namun, tidak tepat pula menyimpulkan bahwa hukum Indonesia sama sekali tidak mengenal hak prioritas atas hasil likuidasi. Pasal 53 ayat (4) huruf e UU PT menyebut klasifikasi saham yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menerima lebih dahulu daripada klasifikasi saham lain atas pembagian sisa kekayaan Perseroan dalam likuidasi. Pasal 52 ayat (1) huruf b mengakui hak pemegang saham atas sisa kekayaan hasil likuidasi, sedangkan Pasal 149 ayat (1) mengatur pemberesan harta, termasuk pembayaran kreditor dan pembayaran sisa kekayaan kepada pemegang saham.
Perlu dibedakan antara likuidasi badan hukum dengan penjualan saham, pengambilalihan, atau penggabungan perusahaan. Transaksi exit tersebut tidak selalu berarti Perseroan dilikuidasi. Apakah klausul preferensi berlaku pada suatu transaksi bergantung pada definisi liquidation event, rumusan dokumen investasi, kelas dan hak saham dalam anggaran dasar, perjanjian pemegang saham, serta persetujuan korporasi yang diperlukan. Untuk penggabungan, peleburan, pengambilalihan, atau pemisahan, Pasal 126 UU PT juga mewajibkan perhatian terhadap kepentingan Perseroan dan pemegang saham minoritas; Pasal 62 mengatur hak meminta pembelian saham dalam keadaan yang ditentukan undang-undang.
Apabila Perseroan merupakan perusahaan terbuka atau transaksinya masuk dalam ruang lingkup pasar modal, aturan pasar modal dan ketentuan OJK yang relevan juga harus diperiksa. Sementara itu, POJK No. 25 Tahun 2023 mengatur penyelenggaraan usaha perusahaan modal ventura dan perusahaan modal ventura syariah, tetapi bukan peraturan yang secara khusus menetapkan batas kelipatan atau melarang bentuk participating preference tertentu.
Batas Pengaturan dan Perkembangan Regulasi
Dalam peraturan yang dirujuk di artikel ini, belum ditemukan ketentuan yang secara khusus menetapkan batas numerik liquidation preference multiple atau larangan umum atas participating preference tanpa cap. Hal tersebut berbeda dari ketentuan yang mengatur hak kelas saham pada saat likuidasi: Pasal 53 ayat (4) huruf e UU PT memberikan landasan bagi hak untuk didahulukan atas pembagian sisa kekayaan Perseroan pada saat likuidasi.
POJK No. 25 Tahun 2023 mengatur kegiatan usaha dan pengawasan perusahaan modal ventura serta perusahaan modal ventura syariah. Ruang pengaturannya tidak sama dengan pengaturan khusus mengenai urutan pembagian hasil penjualan perusahaan, kelipatan preferensi, maupun formula participating preference. Karena itu, klausul dalam suatu transaksi tetap harus ditelaah berdasarkan anggaran dasar, perjanjian pemegang saham, dokumen investasi, dan ketentuan wajib yang berlaku pada struktur transaksi tersebut.
Strategi Perlindungan bagi Founder
Berikut adalah langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan oleh founder untuk melindungi diri dari dampak negatif liquidation preference:
- Negosiasikan kelipatan 1x. Hindari kelipatan 2x atau lebih, terutama pada putaran awal. Jika investor bersikeras, minta kompensasi lain seperti anti-dilution yang lebih longgar.
- Minta non-participating. Jika harus participating, batasi dengan cap (maksimal total pembayaran investor tidak melebihi, misalnya, 3x investasi) agar tidak habis menyerap seluruh hasil.
- Atur prioritas. Dalam pendanaan bertahap, pastikan liquidation preference tidak bersifat stacked (bertumpuk) yang mengakibatkan investor putaran akhir mendapatkan prioritas di atas investor awal.
- Tetapkan threshold penjualan. Dalam perjanjian, cantumkan bahwa liquidation preference hanya berlaku jika harga penjualan di bawah nilai tertentu. Di atas nilai itu, pembagian dilakukan secara proporsional.
- Hak veto. Pastikan founder memiliki hak veto atas setiap transaksi yang akan memicu liquidation preference, sehingga dapat menolak penjualan yang merugikan.
- Dokumentasikan secara jelas. Semua ketentuan harus dituangkan dalam anggaran dasar dan perjanjian pemegang saham dengan bahasa yang tidak ambigu, serta diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk menghindari perbedaan penafsiran.
Selain itu, founder disarankan untuk selalu didampingi oleh advokat yang berpengalaman dalam transaksi korporasi dan pendanaan ventura sejak tahap awal negosiasi.
- Liquidation preference adalah hak prioritas investor atas hasil penjualan perusahaan yang diatur secara kontraktual.
- Kelipatan (multiple), partisipasi, dan prioritas menentukan besarnya bagian yang diterima founder.
- Founder bisa mendapat nol jika total preferensi investor melebihi harga jual.
- Pasal 53 ayat (4) huruf e UU PT mengakui hak kelas saham untuk didahulukan atas pembagian sisa kekayaan pada saat likuidasi; penerapannya pada transaksi exit perlu diuji dari dokumen transaksi dan hukum yang berlaku.
- Wacana perkembangan regulasi ada, namun belum ada produk hukum yang mengikat.
- Strategi negosiasi dan bantuan hukum sangat penting untuk menghindari kerugian.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Dasar Hukum
Peraturan berikut menjadi kerangka hukum untuk menilai klasifikasi saham, hak atas sisa kekayaan saat likuidasi, kewajiban kontraktual, serta transaksi penggabungan atau pengambilalihan. Kesesuaiannya tetap perlu diuji terhadap fakta dan dokumen transaksi terkait.
- Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, terutama Pasal 52 ayat (1) huruf b (hak atas sisa kekayaan hasil likuidasi), Pasal 53 ayat (1) dan ayat (4) huruf e (klasifikasi saham dan hak didahulukan atas pembagian sisa kekayaan Perseroan dalam likuidasi), Pasal 126 ayat (1) (kepentingan dalam merger, pengambilalihan, peleburan, atau pemisahan), Pasal 149 ayat (1) (pemberesan likuidasi), serta Pasal 61 dan Pasal 62 dalam batas kondisi yang diatur di dalamnya. Baca naskah resmi UU PT.
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Perppu Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang, sebagai bagian dari perubahan hukum yang berkaitan dengan pengaturan perseroan. Baca naskah di JDIH BPK.
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, terutama Pasal 1320 (syarat sah perjanjian), Pasal 1337 (sebab yang terlarang), dan Pasal 1338 (daya mengikat perjanjian dan pelaksanaan dengan itikad baik), untuk menilai perjanjian pemegang saham dan dokumen investasi. Baca naskah KUHPerdata di JDIH Mahkamah Agung.
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal, sebagaimana ketentuan sektor keuangan terkait diubah melalui UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan dan UU Nomor 4 Tahun 2026. Relevansinya bergantung pada status perusahaan dan apakah transaksi berada dalam ruang lingkup pasar modal. Baca UU Pasar Modal; UU P2SK 2023; perubahan tahun 2026.
- Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 25 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Modal Ventura Syariah. Peraturan ini relevan terhadap kegiatan usaha perusahaan modal ventura yang tunduk pada pengawasan OJK; peraturan ini bukan aturan khusus yang menetapkan formula atau batas kelipatan liquidation preference. Baca halaman regulasi resmi OJK.
Referensi
- Otoritas Jasa Keuangan, “OJK Terbitkan POJK Nomor 25 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Modal Ventura Syariah,” Siaran Pers, 17 Januari 2024. Digunakan sebagai sumber penjelasan mengenai ruang lingkup pengaturan usaha modal ventura.
- Otoritas Jasa Keuangan, FAQ POJK Nomor 25 Tahun 2023 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura dan Perusahaan Modal Ventura Syariah. Bahan penjelas, bukan peraturan tersendiri.
- National Venture Capital Association (NVCA), Model Legal Documents. Referensi praktik dokumentasi investasi ventura di Amerika Serikat; bukan hukum yang berlaku di Indonesia.
- National Venture Capital Association (NVCA), NVCA 2020 Yearbook, bagian glossary tentang “Liquidation Preference”. Digunakan untuk konteks istilah industri, bukan sebagai dasar hukum Indonesia.
Referensi di bagian ini adalah bahan penjelas dan sumber praktik. Daftar peraturan perundang-undangan sebagai dasar analisis ditempatkan terpisah pada bagian Dasar Hukum.
Artikel ini disusun berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia untuk kepentingan edukasi hukum. Analisis yang disampaikan merupakan pandangan penulis dan tidak dimaksudkan sebagai nasihat hukum final. Setiap perkara memiliki kekhususan yang memerlukan kajian mendalam. Regulasi dapat berubah sewaktu-waktu, oleh karena itu pembaca disarankan untuk memeriksa peraturan terbaru dan berkonsultasi dengan advokat atau konsultan hukum yang berpengalaman sebelum mengambil keputusan.
